Merah darahnya, putih tulangnya tapi tak cinta merah darahnya, putih tulangnya tapi tak nyata   Duhai rakyat pribum
Cinta tak terdefinisi oleh kata-kata Tak mengharap ataupun diharapkan Tak terbuktikan karena alasan Tak juga rasa iba
Ketika Purnama Tiba.. Tak Ada Yang Bisa Kulakukan Selain Membuka Jendela Kamarku Dan Meratapi Bintang Penyendiri Dianta
Sekelebat bayangan hitam melintas begitu saja di depan mataku. Tak begitu jelas apa tadi itu, yang jelas, benda atau
                                  PAHLAWAN Persatuanmu mengingatkanku seperti sapu lidi Cinta kasihmu kau sadarkan di
Seuntai Kata yg menyapa Diterpa angin dari kejauhan sana Mengabarkan Arti kerinduan Seseorang terdiam dikursi kesakit
Pagi ini di istana megahmu Kau duduk manis di antara kursi penderitaan itu Bakalmu selimuti dosamu Bicaramu sumbingka
Cintaku sepahit kopi yang kau palingkan rasanya yang kau hambarkan aromanya dan seketika, aku menjadi ampas di bibir
Dari kemiringan gunung aku tergerus oleh amukan skuadron-skuadron angin. Membuatku meruntuh dan terjatuh disisi hantu m
Anda disini: Home